Sudah Punya Banyak, Mengapa Hidup Masih Terasa Hampa?
☕ Luangkan Waktu Sejenak di Sini Bacalah sekilas isi tulisan ini dengan tenang, lalu dengarkan audionya di bagian bawah layar. Setelah selesai mendengarkan, luangkan waktu untuk merapikan pikiran Anda dengan menjawab pertanyaan pada bagian 'Mari Kita Renungkan Bersama' di akhir tulisan.
Pertanyaan yang Tetap Ada Meski Kita Memiliki Segalanya
Jika hati kita tetap tidak terisi meski telah menikmati banyak hal, di manakah kita perlu mencari makna hidup? Kitab Pengkhotbah memuat pengakuan seseorang yang telah mengalami hikmat, kekuasaan, dan kelimpahan, tetapi tidak dapat berpegang pada semua itu saja sebagai makna hidup. Di hadapan firman ini, saya ingin mengajak kita melihat kembali bukan apa lagi yang perlu kita miliki, melainkan apa yang paling dirindukan hati kita.
Pengkhotbah 1:2-3
Menghadapi Kehampaan di Tengah Singkatnya Waktu
Di tengah kesibukan hidup, mudah bagi kita untuk menganggap waktu sebagai sesuatu yang pasti. Namun ketika hubungan berubah, perpisahan datang tanpa diduga, atau ada kekosongan setelah pekerjaan yang lama kita persiapkan selesai, kita menyadari bahwa hidup berlalu lebih cepat daripada yang kita kira. Saya pun ingin bertanya bersama Anda bagaimana sebaiknya kita menjalani waktu yang singkat ini. Bagaimana jika kita memulai jalan hikmat dengan belajar menghitung hari-hari kita, seperti doa dalam Mazmur?
Mazmur 90:12
Dunia yang Terus Berulang, Hati yang Tak Kunjung Penuh
Kitab Pengkhotbah menggambarkan matahari, angin, dan sungai yang terus bergerak dalam perulangan; mata tidak puas melihat dan telinga tidak penuh mendengar. Walaupun teknologi dan tren baru terus bermunculan, kita masih ingin melihat lebih banyak, memiliki lebih banyak, dan meraih kedudukan yang lebih tinggi. Di tengah perulangan ini, saya ingin mengajak kita memikirkan apakah keinginan kita saja dapat memuaskan dahaga terdalam dalam hati.
Pengkhotbah 1:4-11
Tidak Menyangkal Kehampaan, tetapi Mengarahkan Pandangan kepada Allah
Merasakan kehampaan tidak berarti kita harus menyangkal seluruh nilai kehidupan. Sebaliknya, saya percaya bahwa ketika kita tidak mengabaikan perasaan itu, kita dapat memandang keterbatasan hidup dengan jujur dan mengarahkan pandangan kepada Allah yang kekal. Saat kita mengakui bahwa dengan kekuatan sendiri kita tidak mampu menciptakan makna dan rasa aman yang sempurna, terbukalah ruang untuk memikirkan kembali hubungan kita dengan Allah.
Saya percaya bahwa kehampaan mendasar dalam hidup bermula ketika kita hidup jauh dari Allah. Surat Roma menunjukkan persoalan ini melalui kenyataan dosa dan maut.
Roma 3:23
Roma 6:23
Pengharapan yang Tidak Dapat Binasa dalam Injil
Saya percaya bahwa melalui salib dan kebangkitan Yesus Kristus, kita dapat memandang persoalan maut dan kehampaan dengan cara yang baru. Pencapaian yang diraih di bawah matahari suatu hari dapat lenyap, tetapi Injil menunjuk kepada kehidupan dan pengharapan yang terhubung dengan Allah. Daripada berusaha keras menekan kegelisahan, bagaimana jika kita membawa pertanyaan terdalam dalam hidup kita kepada Allah dengan jujur?
☕ Mari Kita Renungkan Bersama
- Pertanyaan tentang hidup apa yang belakangan ini sering tinggal dalam hati saya?
- Jika saya pernah merasa hampa setelah suatu pencapaian atau perubahan berlalu, apa yang pengalaman itu membuat saya pikirkan?
- Ketika mengingat bahwa hidup ini terbatas, apa yang ingin saya sampaikan dengan tenang kepada Allah?