Bagaimana Memuaskan Dahaga Hidup?
☕ Luangkan Waktu Sejenak di Sini Bacalah sekilas isi tulisan ini dengan tenang, lalu dengarkan audionya di bagian bawah layar. Setelah selesai mendengarkan, luangkan waktu untuk merapikan pikiran Anda dengan menjawab pertanyaan pada bagian 'Mari Kita Renungkan Bersama' di akhir tulisan.
Terkadang kita telah memperoleh apa yang kita perlukan, tetapi masih merasa ada bagian hati yang belum terisi. Dari manakah kerinduan itu datang? Alih-alih menilainya sekadar sebagai kekurangan, saya ingin memandangnya bersama Anda sebagai pertanyaan tentang sumber kehidupan dan hubungan kita dengannya.
Pertanyaan Terdalam dalam Hati
Mungkinkah di lubuk hati kita ada kerinduan untuk mengenal Allah dan menemukan makna hidup? Menurut saya, kita tidak dapat menilai kerinduan itu hanya dengan melihat perilaku atau keadaan yang tampak dari luar. Sebagaimana setiap orang mencari pertolongan dengan cara yang berbeda ketika hidup terasa berat, pertanyaan terdalam dalam hati pun dapat muncul dalam beragam bentuk.
Percakapan di Tepi Sumur
Ketika melewati Samaria, Yesus bertemu dengan seorang perempuan di tepi sumur. Kisah tentang Yesus yang menempuh jalan yang pada masa itu dihindari banyak orang dapat kita temukan dalam Yohanes 4:4. Saya percaya bahwa yang Yesus lihat bukanlah sekadar penampilan luar perempuan itu, melainkan kerinduan di dalam hatinya.
Percakapan tentang air kemudian menjadi gambaran yang menunjuk kepada dahaga yang lebih dalam. Menurut saya, ruang kosong dalam hati yang tidak dapat diisi oleh manusia maupun kepemilikan bisa jadi merupakan kerinduan akan hubungan yang hidup dengan Allah. Saya tidak bermaksud menyamaratakan keadaan setiap orang. Saya hanya ingin mengajak kita bertanya: kepada apakah dahaga dalam diri kita tertuju?
Mengapa Kepuasan Tidak Bertahan Lama?
Saya percaya bahwa kita diciptakan untuk hidup bersama Allah, sehingga sulit bagi kita memperoleh kepuasan sempurna hanya dari hal-hal lain. Saya ingin berbagi dengan Anda bahwa iman adalah hubungan yang memercayai Allah dengan melepaskan sikap ingin menjadi tuan atas hidup melalui kekuatan sendiri.
Matius 1:21-23 memperkenalkan Yesus sebagai Imanuel, yaitu Allah yang menyertai kita. Dalam nama ini, saya melihat hati Allah yang tidak membiarkan kita sendirian.Saya tidak ingin mengatakan bahwa iman ini segera menjawab semua pertanyaan atau menghapus kesulitan. Namun saya ingin mengajak kita mencari tujuan hidup bukan pada pencapaian dan kepemilikan itu sendiri, melainkan dalam hidup bersama Allah.
Janji Penyertaan
Saya membaca alur besar Alkitab sebagai kisah tentang Allah yang ingin menyertai kita. Dalam hidup masih ada kesulitan yang harus kita lalui, tetapi iman bahwa kita tidak sendirian di sepanjang jalan itu dapat memberi damai sejahtera dalam hati.
Wahyu 21:3 berbicara tentang Yerusalem baru dan kemah Allah. Saya memandang gambaran tentang Allah yang tinggal bersama manusia ini sebagai pengharapan yang Alkitab tunjukkan kepada kita.Bagaimana jika kita menyerahkan kekhawatiran dalam hati kepada Allah? Saya pun perlu berlatih melepaskan keinginan untuk mengendalikan semua masalah dan belajar memercayai Allah. Inilah jalan yang ingin saya pelajari bersama Anda di dalam iman.
Menyembah dalam Roh dan Kebenaran
Perempuan itu bertanya di manakah orang harus menyembah, dan Yesus berbicara tentang penyembahan dalam roh dan kebenaran, bukan terutama tentang tempatnya. Percakapan ini dapat dilihat dalam Yohanes 4:23-24. Saya percaya bahwa melalui penyembahan kita dapat berjumpa dengan Allah dan menerima kekuatan baru bagi jiwa.
Melalui Yesus, jalan untuk datang kepada Allah telah dibukakan. Alih-alih menjadikan ibadah sebagai sarana untuk menghindari masalah hidup, saya berharap kita dapat memahaminya bersama sebagai tempat untuk melihat kembali hubungan kita dengan Allah.
☕ Mari Kita Renungkan Bersama
- Apa pertanyaan terdalam yang belakangan ini tinggal dalam hati saya?
- Apa manfaat dan keterbatasan yang saya lihat dari apa yang saya harapkan dapat memberi kepuasan?
- Waktu seperti apa yang dapat saya sediakan untuk melihat kembali hubungan saya dengan Allah dalam ketenangan?