Dunia Kekal dan Satu-satunya Juruselamat · Melihat Kembali Perjalanan
Topik Pembelajaran: Surga dan Neraka · Bukti Kuat bahwa Yesus Adalah Juruselamat
Mendengar firman Allah dalam jumlah banyak tidak serta-merta mengubah kehidupan secara otomatis. Betapa pun melimpahnya firman yang diberikan di hadapan kita, jika bejana hati yang menerimanya belum dipersiapkan, firman itu akan sulit meresap ke dalam bagian hidup kita yang paling dalam.
Jika hati kita dipenuhi dengan kekhawatiran dan kecemasan duniawi—hanya diisi oleh perkara mencari nafkah, keluarga, pekerjaan, dan kepentingan diri sendiri—tempat bagi Injil untuk masuk mau tidak mau akan menjadi semakin sempit.
Karena itu, pertama-tama kita harus bertanya dengan jujur di hadapan Allah:
“Apakah yang saat ini menduduki pusat kehidupan saya?”
Apakah Allah? Apakah Injil? Ataukah masalah, rencana, dan ambisi pribadi saya?
Hidup dengan hati yang diperbarui
Hati Kita Harus Diperbaharui
Rasul Paulus dalam Roma 12:2 menasihati kita agar jangan menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budi, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.
Hati yang diperbaharui bukanlah sekadar perubahan suasana hati atau pembaharuan tekad moral belaka. Ini adalah pemindahan pusat kehidupan:
- Dari tempat di mana diri saya menjadi pusat, beralih menjadi Allah yang menjadi pusat.
- Dari tempat di mana pikiran saya menjadi tolok ukur, beralih menjadi firman Allah yang menjadi tolok ukur.
- Dari tempat di mana keinginan saya menjadi yang terpenting, beralih menjadi kehendak Allah yang menjadi hal paling utama.
Karena itu, kita berdoa seperti ini:
“Tuhan, ubahlah pusat hati saya.
Jangan biarkan saya duduk di takhta pusat hidup saya sendiri, melainkan biarlah Allah dan Injil yang menjadi pusatnya.”
Kita Bukan Milik Kita Sendiri
Injil tidak diberikan hanya untuk membuat kehidupan kita di dunia ini menjadi sedikit lebih nyaman. Injil menetapkan kembali secara mendasar siapa Pemilik hidup kita yang sesungguhnya.
Kita adalah milik Allah. Karena itu, jika Anda sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada “apa yang saya inginkan?” yang harus berakar di dalam hati:
“Apakah yang Tuhan kehendaki?”
Bukan “bagaimanakah saya ingin hidup?”, melainkan pertanyaan: “Di manakah Allah ingin memakai kehidupan saya?” harus berdiri tegak di pusat hidup kita. Jika pusat ini tidak berubah, sebanyak apa pun kita mendengar Injil, pada akhirnya Injil itu tidak akan mampu menggerakkan kehidupan kita.
Salib Menyentuh Pusat Diri Kita
Di pusat Injil berdirilah salib. Namun, salib tidak berhenti sebagai kisah mengharukan bahwa Yesus telah menderita demi kita.
Salib menyentuh bagian terdalam dari keberadaan kita dan mengajukan pertanyaan:
“Siapakah tuan atas kehidupan Anda?”
Secara naluriah kita ingin mempertahankan diri kita sendiri. Kita takut melepaskan rencana, keinginan, cara, dan hal-hal yang kita anggap penting. Karena itu, ketika Allah menyentuh pusat hati kita, di dalam batin sering kali timbul penolakan. Namun, hanya ketika kita tidak menghindari titik tersebut dan membawanya ke hadapan Tuhan dengan jujur, barulah Injil dapat meresap ke lubuk hidup kita yang paling dalam.
“Tuhan, Perbaharuilah Hati Saya”
Menjalani kehidupan beriman untuk waktu yang lama tidak serta-merta membuat pusat hati kita tertuju kepada Allah secara otomatis. Sebaliknya, seiring berjalannya waktu, iman, firman, dan Injil bisa menjadi begitu biasa sehingga terasa seperti kisah yang sudah kita ketahui semua.
Saat itu, iman dapat kehilangan vitalitasnya seperti air yang tergenang. Dari luar mungkin tidak tampak masalah besar, tetapi aliran kehidupan melemah, buah berkurang, dan Injil tidak lagi mengalir kepada orang lain.
Itulah sebabnya kita harus terus-menerus memeriksa diri di hadapan Allah:
“Tuhan, apakah saat ini saya sungguh-sungguh hidup?
Apakah Injil masih menggerakkan saya hari ini?
Apakah kasih yang mula-mula saat pertama kali saya mengasihi Tuhan masih menyala di dalam diri saya?”
Allah Menginginkan Hidup yang Tetap Berbuah pada Masa Tua
Allah tidak menghendaki kita berhenti pada iman yang hanya berkobar sesaat lalu menjadi dingin. Alkitab dalam Mazmur 92:14 menyanyikan tentang orang yang berakar dalam di dalam rumah TUHAN: pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar.
Orang yang terus-menerus diperbaharui di dalam Allah akan menghasilkan buah yang indah kendati tahun-tahun terus berganti. Agar hal itu terjadi, kita harus dengan rendah hati menempatkan diri di hadapan Allah setiap hari.
Memeriksa hati kembali, berbalik, memandang Injil, dan menyerahkan pusat hidup kita seutuhnya kepada Allah:
“Tuhan, hancurkanlah apa yang telah mengeras di dalam diri saya dan berikanlah hati yang baru.
Biarlah Injil kembali hidup dan bergerak di dalam diri saya.”
Injil yang memandang surga dan neraka
Kenyataan Surga dan Neraka Harus Jelas agar Salib Menjadi Nyata
Dalam waktu berbagi kali ini, ada kebenaran agung yang kembali kita hadapi: yaitu kenyataan surga dan neraka.
Kita mempelajari Injil sebagai kisah tentang salib dan kebangkitan, keselamatan dan hidup yang kekal. Namun, di balik Injil itu terdapat realitas kekal yang nyata, yaitu surga dan neraka. Jika surga dan neraka menjadi kabur, makna salib dan urgensi keselamatan pun akan ikut meredup.
Mengapa Anak Allah meninggalkan segala kemuliaan surga dan datang ke bumi ini? Mengapa Dia harus menumpahkan darah di kayu salib dan menanggung kematian?
Semata-mata untuk menyelamatkan kita dari kebinasaan kekal.
“Supaya Setiap Orang yang Percaya Tidak Binasa, Melainkan Beroleh Hidup yang Kekal”
Ayat yang sangat kita kenal, Yohanes 3:16, menyatakan bahwa karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Di sini diletakkan dua kenyataan kekal yang sangat jelas: kebinasaan dan hidup yang kekal. Allah tidak menyayangkan Anak-Nya yang tunggal demi menyelamatkan kita dari kebinasaan dan memindahkan kita ke dalam hidup yang kekal.
Karena itu, salib sama sekali bukanlah kisah yang sepele. Ini adalah peristiwa yang mempertaruhkan nasib kekal seseorang. Jika kita sungguh-sungguh mempercayai kenyataan surga dan neraka, jiwa orang tua, anak-anak, keluarga, sahabat, dan sesama di sekitar kita akan mulai tampak di mata kita.
Dan dari lubuk hati yang terdalam, timbullah pertanyaan yang mendesak:
“Apakah orang ini benar-benar sudah diselamatkan?”
Membicarakan Neraka Bukanlah Hal yang Bertentangan dengan Kasih
Sebagian orang bertanya, “Jika Allah adalah kasih, bagaimana mungkin Dia melakukan penghakiman?” Namun, Allah yang disaksikan oleh Alkitab bukanlah Allah dengan kasih buta tanpa keadilan. Allah adalah kasih yang sempurna, sekaligus Pribadi yang kudus dan adil.
Kesabaran Allah yang panjang tidak boleh disalahartikan sebagai ketiadaan keadilan. Sama seperti kasih Allah adalah nyata, penghakiman Allah pun merupakan kenyataan yang pasti.
Karena itu, orang yang memberitakan Injil sama sekali tidak membicarakan neraka untuk menakut-nakuti manusia. Ia memberitakannya agar mereka beroleh keselamatan sejati. Mengetahui bahaya kekal di depan mata namun tetap bungkam sama sekali bukanlah kasih.
Jika Surga dan Neraka Kabur, Injil pun Menjadi Kabur
Kita pun harus memeriksa diri kita sendiri. Apakah Anda sungguh-sungguh mempercayai surga dan neraka sebagai realitas yang nyata? Ataukah seiring bertambahnya tahun-tahun beriman, fakta tersebut perlahan berubah menjadi konsep yang samar dan abstrak?
Jika kepedihan hati saat memandang satu jiwa telah tumpul, itu bukan sekadar tanda meredupnya semangat penginjilan, melainkan tanda bahwa latar belakang mendasar dari Injil sedang memudar.
Jika neraka menjadi kabur, urgensi salib akan lenyap; dan jika hidup yang kekal menjadi kabur, kemuliaan kebangkitan pun akan kehilangan kilaunya. Jika demikian, iman Kristen akan tereduksi hanya menjadi “sarana untuk memperoleh ketenangan batin dan hidup sedikit lebih bermoral”. Itu bukanlah kuasa Injil yang agung seperti yang diberitakan oleh Alkitab.
Kita Harus Memperbaharui Pikiran Kita dengan Firman Allah
Kita tidak boleh membiarkan arus dan pemikiran dunia ini mendikte iman kita. Suasana zaman atau selera umum tidak dapat menjadi standar kebenaran.
Kita harus menegakkan kembali pikiran kita dengan firman Allah:
“Tuhan, basuhlah hati saya yang tercemar oleh pemikiran dunia ini.
Mampukanlah saya melihat surga dan neraka persis seperti yang telah Tuhan firmankan, dan biarlah realitas kekekalan kembali tampak jelas di dalam hati saya.”
Ketika realitas kekekalan tampak nyata, anugerah salib akan kembali terasa begitu besar, kemenangan kebangkitan akan bersinar terang benderang, dan kita akan menyadari betapa tak ternilai harganya satu jiwa manusia.
Bukti Alkitab bahwa Yesus adalah Juruselamat
Pernyataan bahwa Yesus Adalah Juruselamat Bukanlah Klaim Tanpa Dasar
Lalu, mengapa di antara begitu banyak tokoh manusia, kita harus percaya hanya kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat?
Alkitab tidak menuntut iman yang buta. Di sepanjang sejarah umat manusia, selama berabad-abad Allah terlebih dahulu telah berjanji, dan Dia menggenapi janji itu tanpa meleset sedikit pun.
Nubuat dan penggenapan yang setia inilah bukti paling pasti yang membuktikan bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat yang diutus oleh Allah.
Janji-Janji Perjanjian Lama Telah Digenapi di dalam Yesus
Saat membaca Perjanjian Baru, kita menemukan satu deklarasi yang berulang kali berkumandang: yaitu kesaksian bahwa “firman Alkitab yang tertulis telah digenapi”.
Mulai dari kelahiran Yesus, pelayanan publik-Nya, penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib, hingga kebangkitan-Nya, seluruh janji lama dalam Perjanjian Lama digenapi seutuhnya di dalam Yesus Kristus. Ini bukanlah cerita rekaan yang dikarang manusia belakangan setelah Yesus datang, melainkan firman Allah yang telah diberitakan jauh sebelumnya dan digenapi tepat di tengah-tengah panggung sejarah.
Janji bahwa Seorang Anak Dara Akan Mengandung dan Melahirkan Seorang Anak Laki-Laki
Melalui nabi Yesaya dalam Perjanjian Lama, Allah telah berfirman jauh sebelumnya bahwa seorang anak dara akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (Yesaya 7:14).
Perjanjian Baru mencatat kelahiran Yesus dan dengan jelas bersaksi bahwa semua ini terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi (Matius 1:22-23). Ada janji yang telah diberitakan terlebih dahulu, dan tepat sesuai janji itu, Tuhan datang ke panggung sejarah.
Penderitaan dan Kematian-Nya pun Telah Difirmankan Sebelumnya
Penderitaan salib Yesus pun sama sekali bukanlah tragedi yang kebetulan. Sejak dahulu kala Alkitab telah bernubuat tentang Juruselamat yang akan menanggung dosa umat manusia dan menderita.
Sebagaimana tertulis dalam Yesaya 53:5, Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepada-Nya, dan oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh. Penderitaan Yesus digenapi seutuhnya di dalam rancangan keselamatan Allah yang telah dipersiapkan sebelum dunia dijadikan.
Firman Digenapi Hingga Saat-Saat Terakhir di Kayu Salib
Di atas kayu salib, Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, dan supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci, Dia berkata, “Aku haus!” (Yohanes 19:28).
Ini adalah penggenapan nubuat yang tercatat dalam Mazmur Mazmur 69:21. Alkitab menunjukkan bahwa bukan hanya kelahiran dan kehidupan Yesus saja, melainkan hingga hembusan napas terakhir di kayu salib, firman Allah digenapi tanpa ada satu pun yang meleset.
Kebangkitan pun Berada di dalam Rencana Allah
Kematian Yesus bukanlah akhir dari segalanya. Sejak Perjanjian Lama, Allah telah berbicara tentang kehidupan yang akan mengalahkan maut dan menang, dan Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga tepat sesuai janji tersebut.
Salib dan kebangkitan bukanlah peristiwa kebetulan, melainkan puncak dari sejarah keselamatan yang telah dirancang Allah sejak kekekalan untuk menyelamatkan umat manusia dan disaksikan berulang kali melalui Kitab Suci.
Begitu Banyak Janji Digenapi di dalam Satu Pribadi
Satu atau dua nubuat mungkin saja terjadi secara kebetulan. Namun, jika puluhan nubuat yang dituliskan oleh berbagai orang di sepanjang ribuan tahun sejarah tergenapi secara sempurna di dalam riwayat hidup satu Pribadi, itu sama sekali tidak mungkin merupakan suatu kebetulan.
Melalui penggenapan yang konsisten ini, Alkitab menyatakan kepada kita:
“Inilah satu-satunya Kristus yang telah dijanjikan oleh Allah.”
Inilah sebabnya para rasul di gereja mula-mula dapat memberitakan Injil dengan penuh keberanian. Mereka tidak menjajakan pemikiran mereka sendiri, melainkan memberitakan janji Kitab Suci Perjanjian Lama dan penggenapan historis yang nyata di dalam Yesus Kristus.
Jalan menerima firman dengan iman
Iman Bukanlah Sesuatu yang Buta
Iman Kristen bukanlah kepatuhan buta yang memaksa diri untuk percaya dengan mata terpejam tanpa dasar apa pun. Allah telah berfirman dan menggenapinya dengan setia di dalam sejarah, sehingga Dia menunjukkan kepada kita dasar yang kokoh agar kita dapat percaya.
Karena itu, kita dapat mengaku dengan kepastian yang tidak tergoyahkan:
“Yesus bukanlah sekadar guru moral biasa.
Yesus adalah satu-satunya Juruselamat yang dijanjikan Allah, Sang Kristus yang telah mati di kayu salib karena dosa-dosa saya dan bangkit kembali.”
Roh Kudus Bekerja Melalui Firman Allah
Ketika kita memberitakan Injil, yang mengubah jiwa manusia bukanlah kefasihan bicara atau kelihaian membujuk. Roh Kuduslah yang harus bekerja.
Dan Roh Kudus berkenan memakai firman Allah yang telah diilhamkan-Nya sendiri. Karena itu, saat memberitakan Injil, kita tidak boleh menggantikan kebenaran Alkitab dengan pemikiran manusia atau logika dunia.
Kita menjelaskannya agar mudah dipahami sesuai kemampuan pendengar, namun intinya harus selalu berakar pada firman Alkitab. Ketika firman Allah yang hidup disampaikan sehingga masuk ke dalam hati, Roh Kudus memakai firman itu sebagai saluran untuk mengerjakan karya menghidupkan manusia.
Injil Adalah Pusat yang Memadatkan Seluruh Isi Alkitab
Seluruh aliran Alkitab bermuara kepada satu Pribadi: Yesus Kristus.
Seluruh janji, hukum, nubuat, dan sejarah keselamatan dalam Perjanjian Lama akhirnya berbuah menjadi satu di dalam salib dan kebangkitan Yesus Kristus.
Karena itu, Injil salib dan kebangkitan bukanlah sekadar salah satu dari sekian banyak pengajaran Alkitab, melainkan pusat paling bercahaya tempat seluruh kisah keselamatan Alkitab terkumpul. Injil inilah yang hari ini mendatangkan hidup yang kekal bagi kita.
Bagaimanakah Kita Dapat Menerima Segala Kebenaran Ini Menjadi Milik Kita?
Kini tinggallah pertanyaan yang paling menentukan:
“Bagaimanakah saya dapat menikmati seluruh kebenaran Injil ini sebagai milik saya?”
Jalannya tidak lain adalah iman.
Meskipun kita mendengar tentang surga dan neraka, jika kita tidak menyambutnya dengan iman, hal itu akan menjadi cerita yang tidak ada hubungannya dengan diri kita. Meskipun kita mengetahui begitu banyak bukti penggenapan tentang Yesus, tanpa iman hal itu hanya akan berhenti sebagai pengetahuan di kepala. Injil salib dan kebangkitan pun tidak akan bekerja sebagai kuasa kehidupan yang menyelamatkan jiwa kita jika tidak disambut dengan iman.
Iman adalah satu-satunya saluran tempat anugerah dan keselamatan Allah yang melimpah masuk ke dalam kehidupan kita.
Jangan Ragu Sambil Berkata “Saya Harus Merasakannya Dulu Baru Percaya”
Sebagian orang sering berkata:
“Surga dan neraka tidak terasa nyata bagi saya. Salib dan kebangkitan Yesus juga belum menyentuh hati saya secara mendalam.”
Lalu mereka menunda untuk percaya sampai segala sesuatunya dapat dipahami secara sempurna oleh akal dan dirasakan secara emosional. Namun, iman tidak hanya mengikuti emosi, melainkan keputusan kehendak.
Ketika mendengar firman Allah, kendati ada bagian yang belum kita pahami sepenuhnya, kita mengambil keputusan hati untuk datang kepada Allah:
“Tuhan, meskipun saya belum memahami semuanya, saya memutuskan untuk percaya pada firman-Mu.”
Sekalipun iman itu masih kecil, melangkahkan kaki dengan jujur di hadapan Tuhan adalah hal yang mutlak diperlukan.
Firman dan Iman Harus Berpadu Bersama
Alkitab dalam Ibrani 4:2 mengingatkan kita bahwa firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena firman itu tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman pada mereka yang mendengarnya.
Mendengar firman tidak serta-merta menghasilkan buah kehidupan bagi semua orang. Firman harus bertemu dengan iman kita:
“Tuhan, saya mau percaya.”
Ketika kita menerima firman dengan sikap rendah hati seperti ini, pintu hati yang keras akan terbuka, dan kebenaran yang tadinya hanya berhenti sebagai pengetahuan akan mulai bekerja sebagai kehidupan yang nyata.
Jangan Memandang Remeh Iman yang Kecil
Kendati iman Anda saat ini belum besar, Anda tidak perlu berkecil hati. Di sudut hati Anda mungkin masih tersisa keraguan dan ketakutan.
Namun, jika di tengah kelemahan itu terdapat seberkas kerinduan, “tetapi saya tetap ingin percaya,” bawalah hati itu apa adanya kepada Tuhan. Jangan tinggal di dalam ketidakpercayaan, melainkan pilihlah untuk berdiri di pihak iman:
“Tuhan, saya ingin percaya.
Saya memilih untuk beriman, tolonglah saya yang kurang percaya ini.”
Melalui pengakuan iman yang kecil itulah Allah akan membuka pintu hati Anda dengan lebih lebar lagi.
Iman Bertumbuh Melalui Pengakuan
Iman bukanlah rahasia yang disembunyikan di dalam hati belaka, melainkan kehidupan yang bertumbuh dalam hidup nyata saat diakui oleh bibir kita:
- “Saya percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah.”
- “Saya percaya bahwa Yesus telah mati di kayu salib memikul segala dosa saya.”
- “Saya percaya bahwa Yesus telah mematahkan kuasa maut dan bangkit kembali.”
- “Saya percaya bahwa hanya di dalam Yesus Kristus ada hidup yang kekal.”
Pandanglah dan akuilah kebenaran Injil ini setiap hari.
Alkitab dalam Ibrani 12:2 menasihati kita agar memandang kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan. Dia mengabaikan kehinaan dan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, dan sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Satu-satunya sasaran arah yang harus dipandang oleh iman kita adalah Yesus Kristus saja.
Hidup yang maju membawa Injil
Injil Harus Bergerak di dalam Diri Kita
Tujuan kita mempelajari Injil berulang kali bukanlah untuk menumpuk pengetahuan. Tujuannya adalah agar Injil itu sungguh-sungguh hidup dan bergerak di dalam diri kita.
Ketika kenyataan surga dan neraka menjadi nyata di depan mata, ketika kepastian bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat ditegakkan, dan ketika salib serta kebangkitan disadari sebagai kuasa Allah yang telah menyelamatkan saya, Injil akan mulai berkobar dari lubuk hati yang terdalam.
Saat itulah cara kita memandang manusia berubah secara mendasar.
Melampaui pertanyaan “apakah orang itu berguna bagi saya atau orang yang baik?”, kita akan memandang: “Apakah jiwa itu telah beroleh keselamatan sejati?”
Ketika Mengalami Hal yang Baik, Kita Tidak Dapat Berdiam Diri
Ketika memakan makanan yang lezat atau menemukan hal yang baik, kita dengan senang hati membagikannya kepada orang-orang di sekitar kita. Jika ada sesuatu yang sangat menolong kita, kita tidak tahan untuk tidak menganjurkannya kepada keluarga dan sahabat.
Namun, jika kita mengetahui Injil yang telah menyelamatkan kita dari kebinasaan kekal menuju hidup kekal tetapi kita tetap berdiam diri, kita harus merenungkan keadaan hati kita dengan sungguh-sungguh:
Apakah Injil saat ini sungguh-sungguh hidup dan bernapas di dalam diri saya?
Jika salib adalah peristiwa nyata yang telah menyelamatkan saya dan kebangkitan adalah kebenaran yang memberikan hidup kekal, sudah sepatutnya timbul kerinduan kudus di dalam diri kita:
“Saya ingin memberitakan Injil kehidupan ini kepada orang-orang yang saya kasihi.”
Kita Adalah Orang-Orang yang Melangkah Membawa Injil
Kuasa seorang penginjil sama sekali tidak terletak pada bakat atau kefasihan lidah manusia. Kita memang lemah, tetapi di dalam diri kita tersimpan rahasia berharga yang menyelamatkan seisi dunia: yaitu Injil Yesus Kristus.
Ke mana pun Anda melangkahkan kaki, Injil yang mulia ini menyertai Anda.
Bawalah Injil di dalam hati Anda dan pergilah ke rumah tangga Anda, ke tempat kerja, kepada sahabat dan tetangga Anda. Melangkahlah menuju satu jiwa yang hatinya telah dibuka oleh Allah. Ketika Anda menyampaikan firman Injil yang murni tanpa mengandalkan hikmat sendiri, Roh Kudus akan memakai firman itu untuk melimpahkan anugerah yang menyelamatkan manusia.
Kita Harus Membuka Kembali Bejana Hati kepada Tuhan
Agar dapat mengalirkan Injil, pertama-tama bejana hati kita sendiri harus terbuka bersih kepada Allah. Jika hati kita dipenuhi oleh segala kecemasan duniawi, tidak ada ruang untuk menampung Injil; dan jika kedagingan kita masih duduk di takhta pusat hidup, Tuhan tidak dapat memerintah sebagai Raja.
Karena itu, kita kembali melangkah dengan rendah hati ke hadapan takhta Tuhan:
“Tuhan, bentuklah kembali hati saya menjadi baru.
Lembutkanlah hati yang mengeras ini, dan alihkanlah kembali pandangan saya yang sempat terenggut oleh kekhawatiran dunia ini kepada Tuhan.
Saya turun dari takhta tempat saya menjadi tuan, dan biarlah hanya Yesus Kristus yang menjadi Tuhan dan Penguasa kekal atas hidup saya.”
Tuhan, Biarlah Injil Hidup dan Bergerak di dalam Diri Saya
Kita telah mendengar begitu banyak hal tentang Injil. Kenyataan surga dan neraka, kuasa salib dan kebangkitan, serta fakta bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat telah kita ketahui.
Namun, yang paling penting saat ini adalah:
“Apakah Injil itu hari ini sungguh-sungguh hidup dan bergerak di dalam kehidupan saya?”
Jangan berhenti hanya pada mengetahui, melainkan pegang eratlah Injil dengan iman yang utuh. Bertelutlah di hadapan Tuhan dengan hati yang terbuka dan berdoalah:
“Tuhan, mampukan mata rohani saya melihat kembali realitas kekal surga dan neraka.
Teguhkanlah keyakinan saya lebih dalam lagi bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat yang diutus Allah bagi saya.
Biarlah salib dan kebangkitan bukan hanya menjadi pengetahuan di kepala, melainkan kehidupan yang membuat jantung saya berdegup.
Dan sempurnakanlah iman yang kecil di dalam diri saya, sehingga Injil ini tidak terhenti melainkan mengalir kepada satu jiwa.”
Pengakuan iman kepada Yesus Kristus
Yesus Kristus Adalah Juruselamat yang Diutus oleh Allah
Kepada Anda yang terkasih, saya ingin menyampaikan kembali kebenaran ini:
Kehidupan Anda tidak berakhir dengan beberapa puluh tahun di dunia ini. Dunia kekal sedang menanti, dan kenyataan surga serta neraka itu benar-benar ada. Kita semua dahulu adalah orang-orang yang berada di bawah hukuman kekal karena dosa telah memisahkan kita dari Allah yang kudus.
Namun, Allah tidak menyerah atas Anda. Di sepanjang sejarah yang panjang Dia telah menjanjikan Juruselamat, dan tepat sesuai janji-Nya, Dia telah mengutus Anak Tunggal-Nya, Yesus Kristus, ke bumi ini.
Kelahiran dan penderitaan Yesus, kematian-Nya di kayu salib, serta kebangkitan-Nya yang mulia sama sekali bukanlah suatu kebetulan. Ini adalah puncak kasih dan keselamatan yang telah dinubuatkan Allah berulang kali melalui para nabi Perjanjian Lama dan digenapi-Nya sendiri di dalam sejarah.
Dan Yesus itulah yang telah memikul seluruh dosa Anda dan mati di kayu salib, demi menyelamatkan Anda dari kebinasaan dan memindahkan Anda ke dalam hidup yang kekal.
Karena itu, jangan lewatkan Injil ini begitu saja sebagai pengajaran yang berlalu.
Sambutlah Yesus dengan iman dari segenap pusat hati Anda.
Jangan ragu menanti sampai segala sesuatu terasa sempurna. Persembahkanlah percikan iman kecil yang ada di lubuk hati Anda kepada Tuhan:
“Yesus, saya percaya kepada-Mu.
Saya mengaku bahwa Engkaulah satu-satunya Juruselamat saya.
Dengan rendah hati saya menerima Injil salib dan kebangkitan ini sebagai kehidupan saya.”
Dan bagi Anda yang telah mengalami Injil ini, jangan lagi mengurung kehidupan yang berharga ini hanya di dalam diri Anda sendiri. Biarlah Injil yang telah menyelamatkan Anda ini mengalir kepada keluarga, anak-anak, tetangga, dan kepada satu jiwa yang sedang dicari oleh Allah dengan penuh kerinduan.
Memperbaharui hati,
menempatkan Yesus di pusat hidup,
memandang realitas kekekalan,
mempercayai janji Allah yang setia dan penggenapan-Nya,
serta memegang teguh Injil salib dan kebangkitan.
Dan melangkah menuju satu jiwa dengan membawa sukacita Injil itu.
Inilah jalan yang paling terberkati dan mulia yang ditempuh oleh orang yang dikuasai oleh Injil.