Skip to content

Sudahkah Anda Benar-Benar Diselamatkan? — Mendengarkan dan Memahami

Tentang audio: Rekaman audio untuk pesan ini berbahasa Korea. Catatan di bawah ini ditulis dalam bahasa Indonesia, tetapi jika Anda menekan tombol putar, yang akan terdengar adalah audio berbahasa Korea.

1. Hal yang Paling Penting bagi Manusia Adalah Keselamatan Jiwanya

Orang yang menyampaikan pesan memulai dengan membacakan Yesaya 55:6-7, lalu mengatakan bahwa pertanyaan yang paling penting bagi manusia adalah, "Jika Anda meninggal malam ini, apakah Anda bisa masuk surga?" Ia menjelaskan bahwa pertanyaan ini penting karena menyangkut persoalan yang berlaku untuk selama-lamanya, dan mengatakan bahwa bahkan orang yang pernah berjaya menguasai dunia sekalipun, di ranjang sakitnya bisa menyadari bahwa jiwanya belum siap dan menjadi ketakutan.

Pada bagian ini orang yang menyampaikan pesan menggunakan Lukas 9:26 untuk menjelaskan bahwa memperoleh seluruh dunia tidak ada gunanya jika seseorang kehilangan atau mengorbankan dirinya sendiri.

Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa hal yang paling ia utamakan dalam pelayanan penggembalaannya adalah menyelamatkan jiwa, dan membandingkannya dengan kegentingan seorang dokter yang menangani nyawa pasiennya. Ia melanjutkan dengan mengutip Markus 9:48-49 sebagai peringatan bagi mereka yang belum diselamatkan, dan menjelaskan bahwa ini bukanlah kematian yang lenyap begitu saja, melainkan keadaan hukuman kekal di bawah penghakiman Allah yang adil.

Berdasarkan Matius 7:21, orang yang menyampaikan pesan menjelaskan bahwa tidak semua orang yang berseru kepada Tuhan akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Ia mengatakan bahwa Injil bukan hanya diperlukan bagi orang di luar gereja, tetapi orang-orang yang ada di dalam gereja pun harus benar-benar memeriksa dari dasar apakah iman mereka sejati, lalu berpindah ke bagian berikutnya.

2. Apa yang Bukan Keselamatan?

Pertama, Kehidupan Beragama Bukan Keselamatan

Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa beribadah, melayani, dan menjalani kehidupan gereja itu sendiri tidak menjamin keselamatan. Ia menjelaskan bahwa dibesarkan dalam keluarga Kristen sejak lahir atau memegang jabatan pelayanan di gereja pun tidak selalu berkaitan dengan keselamatan.

Kedua, Memiliki Pengetahuan Bukan Berarti Diselamatkan

Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa sekadar memiliki pengetahuan Alkitab dan mengajarkan firman pun tidak dengan sendirinya memberikan keselamatan. Ia mengambil dasar bahwa di antara orang-orang yang menyeru "Tuhan, Tuhan", ada juga yang pernah melakukan mukjizat, seperti yang dikatakan Tuhan sendiri.

Ketiga, Mengaku Percaya kepada Yesus tetapi Hidup dalam Dosa Berarti Belum Diselamatkan

Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa sekalipun seseorang beribadah sambil menangis di gereja, jika hidupnya sesungguhnya masih dalam dosa, ia belum diselamatkan, dan ia mengambil dasar 1 Korintus 6:9-10 (terjemahan Korea "새번역"). Ia menjelaskan bahwa ayat ini menyebutkan berbagai bentuk kehidupan yang tidak benar dan memperingatkan bahwa orang yang menjalani kehidupan seperti itu tidak akan mewarisi Kerajaan Allah.

Orang yang menyampaikan pesan terutama menekankan bahwa penerima surat ini bukanlah orang-orang duniawi, melainkan jemaat Korintus yang menyebut Yesus sebagai "Tuhan". Ia mengatakan bahwa bahkan pada masa sekarang pun, tidak sedikit orang yang hidup dalam dosa tetapi merasa tenang bahwa keselamatannya baik-baik saja hanya karena pengalaman menerima anugerah pada suatu retret atau ibadah kebangunan rohani di masa lalu, dan bahwa Paulus memperingatkan sikap semacam ini dengan berkata, "Jangan salah sangka." Ini dicatat sebagai pernyataan yang disampaikan orang yang menyampaikan pesan.

3. Apakah Keselamatan Itu?

Orang yang menyampaikan pesan menjelaskan berdasarkan 1 Korintus 6:11 bahwa orang-orang yang tadinya berada di tengah dosa-dosa yang disebutkan sebelumnya dapat berubah menjadi orang yang telah dibasuh, dikuduskan, dan dibenarkan oleh nama Tuhan Yesus Kristus dan oleh Roh Allah kita — yaitu keadaan orang yang telah diselamatkan pada masa sekarang.

Pertama, Pertobatan

Orang yang menyampaikan pesan menyebutkan pertobatan dan iman sebagai dua unsur keselamatan menurut Alkitab. Ia mengatakan bahwa kedua hal ini harus benar-benar ada agar itu menjadi iman yang sejati, dan mengambil dasar Markus 1:15 dan Kisah Para Rasul 2:38. Ia juga menjelaskan bahwa pertobatan dan iman terhubung tak terpisahkan seperti dua sisi mata uang, sehingga ketika seseorang bertobat, timbullah iman, dan jika ada iman yang sejati, pertobatan pun akan mengikutinya secara alami. Sambil begitu, ia mengatakan bahwa banyak orang yang pergi ke gereja sekarang ini, meskipun mengaku percaya kepada Yesus, pertobatannya kabur dan mereka masih hidup dalam dosa serta menjadikan diri sendiri sebagai tuan atas dirinya, lalu ia bertanya apakah iman dalam keadaan seperti itu sungguh-sungguh nyata.

Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa ia sering bertanya kepada orang-orang yang telah diselamatkan kapan mereka memperoleh iman yang sejati, dan jawaban yang umum ia dengar adalah, "Saat itulah saya mengalami pertobatan yang mendalam." Maksudnya, ketika mereka menyadari dosa mereka dan bertobat dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah, mereka menerima Roh Kudus dan mengalami Tuhan datang ke dalam hati mereka. Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa orang yang diselamatkan dengan cara ini rendah hati di hadapan Allah dan sesama karena ia tahu bahwa dirinya adalah orang berdosa, sebaliknya orang yang pengalaman pertobatannya tidak jelas, meskipun terbiasa dengan pengetahuan dan kehidupan gereja, kebersamaannya dengan Allah yang hidup masih kabur. Ini dicatat sebagai pengamatan yang disampaikan orang yang menyampaikan pesan, dan catatan ini tidak menentukan apakah ada tidaknya pengalaman pertobatan dengan sendirinya dapat memastikan status keselamatan seseorang.

Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa firman dalam Yesaya 55 menunjukkan hati Allah tentang pertobatan, dan ia menguraikan bagian ini. Pertobatan, katanya, adalah meninggalkan jalan yang salah dan pikiran yang salah yang selama ini kita tempuh, lalu kembali ke tempat semula yang dipanggil Allah. Ia menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia menurut rancangan-Nya semula. Rancangan semula itu adalah menjadikan Allah sebagai Tuhan dan hidup taat kepada kehendak-Nya, sedangkan dosa adalah segala kehidupan yang meninggalkan tempat di mana Allah menjadi Tuhan, dan mengikuti pikiran serta kebenaran diri sendiri. Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa sekalipun seseorang berada di dalam gereja, jika posisi hatinya tidak berpusat pada Allah, melainkan mengikuti pikiran dan kebenarannya sendiri, di situlah ia harus bertobat. Ini pun dicatat sebagai penafsiran yang disampaikan orang yang menyampaikan pesan.

Kedua, Iman

Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa keselamatan tidak diberikan hanya dengan pertobatan saja — Yohanes Pembaptis pun menyerukan pertobatan, tetapi melalui dia orang tidak memperoleh keselamatan. Keselamatan diperoleh dengan percaya kepada Yesus Kristus, dan iman ini, jelasnya, bukan sekadar pengetahuan intelektual.

Pada bagian ini orang yang menyampaikan pesan mengambil contoh pribadi yang berkaitan dengan kesehatannya. Sembilan tahun lalu ia menjalani operasi pengangkatan seluruh kelenjar tiroidnya, dan sejak itu ia mengonsumsi obat hormon tiroid setiap hari, membawa cukup persediaan ketika bepergian, dan bahkan membawa resep dokter ketika bepergian ke luar negeri. Orang yang menyampaikan pesan menjelaskan bahwa seperti bergantung pada obat ini untuk hidup, sepenuhnya bergantung kepada Yesus Kristus itulah iman. Contoh ini adalah pengalaman kesehatan pribadi orang yang menyampaikan pesan, dan catatan ini tidak memperlakukannya sebagai nasihat kesehatan umum.

Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa percaya kepada Yesus berarti sekarang Dialah yang menjadi Tuhan atas hidup kita. Sebelumnya diri sendiri menjadi tuan yang berpikir dan hidup sesuka hati dan hawa nafsu, tetapi jika seseorang telah bertobat dan menjadikan Yesus sebagai Tuhan, ia akan berusaha menjauhi hal-hal yang tidak dikehendaki-Nya. Orang yang menyampaikan pesan membagikan pengalaman pribadi, yaitu suatu malam belakangan ini ia menemukan perasaan yang terluka yang masih tersisa jauh di dalam hatinya, dan selama sekitar satu jam ia bergumul sambil tidak bisa tidur, lalu membawa hati itu kepada Tuhan dalam pertobatan. Melalui contoh ini, ia menjelaskan bahwa Tuhan yang berdaulat atas hidupnya itu ingin memeriksa bukan hanya perkataan dan perbuatan yang tampak di luar, tetapi juga motif dan pikiran yang paling dalam yang tersembunyi di hati, sesuai dengan kehendak-Nya.

Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa keadaan hati seseorang yang bergantung dengan rendah hati kepada Yesus, seperti kita bernapas, itulah iman yang menyelamatkan menurut Alkitab. Ia mengatakan bahwa sekalipun seseorang memahaminya hanya sebatas pengetahuan, menjalani kehidupan beragama, menjalankan karunia, dan mengajar, jika dalam hidupnya tidak ada pertobatan dan iman, ia belum diselamatkan, dan orang yang menyampaikan pesan mengungkapkan keprihatinannya bahwa banyak orang seperti ini ada di gereja saat ini. Ini dicatat sebagai pernyataan yang disampaikan orang yang menyampaikan pesan, dan orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa fakta dirinya telah menjadi gembala atau telah memberitakan firman pun bukanlah jaminan keselamatan, dan bahwa ia sendiri pun memeriksa dirinya di hadapan firman ini.

4. Apa Hasil dari Iman yang Sejati?

Pertama, Ada Ketenangan Jiwa

Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa berkat pertama yang diberikan ketika hidup dalam pertobatan dan iman seperti ini adalah ketenangan jiwa, dan mengutip Matius 11:28-30. Ia menjelaskan bahwa jika seseorang menjadikan diri sendiri sebagai tuan dan hidup demikian, ia akan memikul beban yang tidak sanggup ditanggungnya sendiri, tetapi ketika ia kembali kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai Tuhan, ketenangan barulah datang. Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa perintah Tuhan bukan untuk menekan manusia, melainkan untuk kehidupan dan kebebasan, dan ketika seseorang meletakkan pikiran serta kehendaknya sendiri di hadapan firman itu dan taat, jiwanya memperoleh perhentian.

Kedua, Ada Sukacita dalam Jiwa

Orang yang menyampaikan pesan mengatakan berdasarkan Roma 14:17 bahwa berkat kedua adalah sukacita jiwa. Ia menjelaskan bahwa Kerajaan Allah bukan tindakan keagamaan lahiriah seperti makan dan minum, melainkan kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita di dalam Roh Kudus, dan bahwa ketika seseorang bertobat, bukan kebenarannya sendiri melainkan kebenaran Allah oleh Kristus yang diberikan kepadanya, dan ketika hubungan dengan Allah dipulihkan, damai sejahtera dan sukacita pun dinikmati. Orang yang menyampaikan pesan membedakan bahwa agama adalah memikul secara terpaksa apa yang tidak ingin dilakukan, sedangkan iman adalah melayani Allah dengan sukacita yang diberikan Roh Kudus.

Ketiga, Yesus Menjadi Gembala yang Baik yang Menuntun Hidup Saya

Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa kepada orang yang memiliki pertobatan dan iman, Tuhan menjadi gembala yang baik dan menuntun hidupnya ke jalan yang paling diberkati, sambil membacakan Mazmur 23. Ia mengatakan bahwa bukan hanya damai sejahtera yang dinikmati di dunia ini, tetapi karena ada pengharapan kekal di rumah Allah, kematian pun tidak lagi menakutkan dan kematian bukanlah akhir. Orang yang menyampaikan pesan menjelaskan bahwa berkat iman ini adalah pemulihan yang bahkan lebih menakjubkan daripada Eden, sesuai bentuk asli yang Allah maksudkan pada waktu penciptaan.

5. Meski Memiliki Bukti Iman yang Jelas untuk Keselamatan, Alkitab Memberi Peringatan Ini

Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa Alkitab memberikan peringatan bahkan kepada orang yang sudah berada dalam iman. Berdasarkan 1 Timotius 1:19, ia menjelaskan bahwa iman orang yang membuang hati nuraninya dapat kandas, dan juga menyebut Matius 18:7. Ia mengatakan bahwa di antara orang-orang yang pernah pergi ke gereja, melayani, dan menerima anugerah dalam suatu retret, tidak sedikit yang kemudian jatuh dan berkelana.

Orang yang menyampaikan pesan menjelaskan bahwa iman berarti menjaga keadaannya tetap murni, dan ia mengatakan bahwa hal ini menuntut sebuah perjuangan. Ia menjelaskan bahwa kita harus setiap hari berjuang agar dosa tidak lagi menguasai diri kita — terus-menerus bertobat, bergantung pada darah Yesus, dan agar diri sendiri tidak kembali menjadi tuan, mengakui kembali otoritas-Nya sebagai Tuhan. Orang yang menyampaikan pesan menyebutkan bahwa Paulus, pada akhir hidupnya, mengaku telah bertanding dalam pertandingan yang baik dan telah memelihara imannya, dan menjelaskan bahwa pengakuan itu muncul justru karena pertandingan ini sama sekali tidak mudah.

Orang yang menyampaikan pesan melontarkan pertanyaan: jika seseorang yang pernah menerima anugerah kemudian tergelincir kembali ke dalam dosa dan kembali menjadi tuan atas hidupnya sendiri, apakah imannya cukup untuk menyelamatkannya pada hari penghakiman? Terkait pertanyaan ini, ia menyebutkan perumpamaan penabur benih, membandingkan kasus benih yang diterima dengan sukacita tetapi tercabut ketika pencobaan datang, kasus yang terhalang semak duri sehingga tidak berbuah karena godaan dan hawa nafsu dunia, dan kasus benih yang diterima dengan hati yang baik sehingga menghasilkan buah tiga puluh, enam puluh, dan seratus kali lipat. Orang yang menyampaikan pesan mengatakan bahwa terhadap iman yang layu, Tuhan bukan memberi dorongan semangat, melainkan peringatan dan seruan untuk bertobat. Ini dicatat sebagai pernyataan yang disampaikan orang yang menyampaikan pesan mengenai ketekunan iman, dan catatan ini tidak menentukan kesahihan teologis dari pernyataan ini.

Video Kesaksian yang Diputar Ulang

Orang yang menyampaikan pesan memutar sebuah video kesaksian sambil mengatakan bahwa video itu sebenarnya tidak sesuai dengan urutan pengajaran ini, tetapi di dalamnya termuat hati pertobatan yang sungguh-sungguh. Sosok dalam video itu, ketika pertama kali memutuskan percaya kepada Yesus dan belajar cara berdoa, memulai doanya dengan berkata, "Orang berdosa ini kini datang," lalu merasakan suara hati yang berkata bahwa dosa terbesarnya adalah tidak percaya kepada Allah selama ini, dan ia menangis tersedu-sedu. Ia kemudian menyadari bahwa ingatannya menyembah di kuil bersama ibunya sewaktu kecil adalah penyembahan berhala, dan memohon pengampunan, lalu dalam proses itu ia merasakan penghiburan seperti orang tua yang memeluk anaknya yang kembali.

Kesaksian ini adalah pengalaman pertobatan pribadi seseorang dalam video, dan catatan ini tidak memperlakukannya sebagai pola pertobatan baku yang berlaku bagi setiap orang.

Orang yang menyampaikan pesan menutup dengan membacakan kembali ayat dari Yesaya 55, mengatakan bahwa sekalipun seseorang pergi ke gereja tetapi hidup seolah tanpa Allah, atau tidak menyembah patung yang kelihatan, jika ia menjadikan dirinya sendiri atau dunia sebagai tuannya, itu juga penyembahan berhala. Ia mengajak untuk bertobat dan berpegang sepenuhnya kepada Yesus Kristus, lalu mengakhiri firmannya.

0:00 / 38:06

An Open Journey Through the Gospel
Untuk menghormati hak cipta dan ketentuan penggunaan terjemahan Alkitab, situs ini menyediakan rujukan kitab, pasal, dan ayat alih-alih memuat ulang bagian lengkap tanpa izin yang telah dikonfirmasi.
Terjemahan di situs ini dibuat dengan AI sehingga mungkin tidak akurat.